Dramaturgi Goffman dan Topeng Kehidupan Media Sosial
| Masalah kehidupan privasi dan bukan privasi ini dapat dilihat melalui Teori Dramaturgi yang dicetuskan oleh Erving Goffman. (Pixabay/sasint) |
Secara general, manusia berdasarkan nature-nya memiliki hasrat dan keinginan yang kuat untuk menjadi sempurna. Hal ini menjadi semakin gencar di era digital yang kita pijak sekarang.
Era digital menciptakan lingkungan yang dapat diibaratkan seperti dua mata pisau. Lingkungan ini memberikan tekanan yang besar bagi individu untuk menjadi sempurna. Dimulai dari sebuah platform media daring yang kita kenal dengan media sosial.
Media sosial mencakup aplikasi seperti Instagram, Twitter, dan TikTok dapat dikatakan menjadi ajang persaingan kesempurnaan. Walaupun, faktanya tidak 100% semua orang terlibat dalam hal tersebut, sosial media tetaplah menjadi kegiatan sehari-hari yang selalu terikat dengan mayoritas individu di era digital ini.
Keterikatan tersebut menimbulkan self exposure yang terlalu berlebihan. Kata privasi pun perlahan-lahan memudar. Dalam beberapa kasus, privasi seseorang seperti kegiatan sehari-harinya yang dibagikan ke sosial media kerap sekali direkayasa. Sekali lagi hal ini dilakukan untuk menghasilkan image yang sempurna dan jika hal ini tidak dapat diraih maka beberapa akan mengalami sebuah mental state yang dikenal dengan anxiety.
Salah satu contoh dalam hal merekayasa tersebut dapat dilihat pada channel Youtube Joeybtoonz yang kini memiliki 653 ribu suscriber. Kumpulan videonya mungkin akan membuka pandangan kita mengenai kenyataan di balik topeng kehidupan media sosial. Konten yang disajikannya berupa kritikan terhadap para pengguna media sosial yang sedikit dibalut dengan komedi dan sarkasme.
Contohnya adalah bagaimana beberapa pengguna media sosial bersaing menggunakan hashtag yang sedang trending seperti mengenai masalah dunia hanya untuk memperlihatkan selfie atau bentuk tubuhnya yang tentunya tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan hashtag tersebut. Selain itu ada juga beberapa pengguna media sosial yang “berpura-pura” untuk membantu seseorang demi konten.
Hal ini dapat mengarah kepada perbedaan antara dua hal yaitu bagaimana setiap individu berperilaku di media sosial dan kehidupan privasinya. Dengan kata lain, perbedaan antara kepalsuan topeng kehidupan media sosial dan kenyataan yang bersumbunyi di baliknya.
Masalah kehidupan privasi dan bukan privasi ini dapat dilihat melalui Teori Dramaturgi yang dicetuskan oleh Erving Goffman.
Teori ini sering kali digunakan dalam Sosiologi sebagai pendekatan akan suatu kasus. Kali ini teori tersebut akan digunakan untuk menggali lebih dalam mengenai individu dan topeng kehidupan media sosial.
Mari kita mengambil contoh drama korea yang cukup terkenal bertajuk "Shadow Beauty". Secara singkat, kisahnya menceritakan tentang sosok karakter bernama Goo Ae Jin yang merupakan korban bullying di sekolahnya.
Tak disangka di balik parasnya yang lugu itu, Goo Ae Jin menjalani kehidupan palsu sebagai selebgram. Ia melakukan photoshop pada setiap fotonya agar memiliki wajah yang terlihat sempurna seperti yang didamba-dambakan oleh perempuan pada umumnya. Dilihat dari pendekatan
Dramaturgi yang menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subjektif dan objektif dari interaksi sosial, kehidupan sosial media Goo Ae Jin disebut sebagai kawasan depan atau front stage sedangkan kehidupan nyatanya atau pribadinya disebut dengan kawasan belakang atau back stage.
Mengapa dapat dikatakan demikian? Secara definisinya, kawasan depan adalah tempat untuk memberikan performance terbaik pada publik dengan appearance dan manner yang sesuai setting. Sedangkan panggung belakang adalah kehidupan privasi seseorang yang terlepas dari setting dan performance tadi. Hal ini cenderung dikaitkan dengan istilah bertopeng dalam kehidupan. Seperti halnya kasus pada media sosial di Cina mengenai para sosialita Shanghai.
Kata sosialita tentunya terdengar tidak asing pada telinga masyarakat. Sosialita dikenal dengan kelompok yang memiliki kehidupan mewah mulai dari mengoleksi tas dan pakaian branded hingga menginap di hotel-hotel berbintang lima atau kelas atas.
Postingan para sosialita di media sosial memang selalu menarik perhatian banyak orang sehingga beberapa berusaha keras untuk menjadi bagian dari kelompok tersebut demi mendapatkan label yang sama.
Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya mengenai rekayasa, hal itu sering terjadi pada dunia sosialita ini. Kenyataannya terpapar di balik topeng suatu kelompok sosialita di Shanghai. Kelompok tersebut diekspos oleh seorang blogger yang menyamar menjadi bagian dari mereka.
Taktik yang dimiliki blogger itu adalah dengan masuk ke group chat para sosialita Shanghai di media WeChat. Awalnya ia mengira bahwa obrolan para sosialita di group chat tersebut akan membahas mengenai tas-tas branded dan hal sejenisnya tetapi kenyataan yang ia lihat cukup mengejutkan.
Ternyata obrolannya mencakup bagaimana mereka harus melakukan patungan untuk terlihat mewah. Masing-masing diwajibkan untuk menyisihkan sebagian duit agar dapat menyewa sebuah tas, pakaian, maupun mobil branded high class secara bersama-sama bahkan dalam beberapa waktu, mereka akan berpatungan untuk memesan satu kamar di hotel mewah seperti Hotel Bvlgari.
Setelah mendapat yang mereka inginkan, setiap anggota akan mengambil foto secara bergiliran dengan semua hal yang telah disewa tersebut. Kemudian hasil foto itu akan diposting pada media sosial yang terkenal di Cina yaitu, Weibo. Setelah ditelusuri, tujuan utama mereka melakukan hal itu ternyata untuk mencuri hati para laki-laki yang kaya raya. Mereka memiliki statement bahwa seorang laki-laki kaya hanya akan melirik seorang perempuan yang setara atau memiliki status yang sama dengannya.
Faktanya, kasus ini tidak hanya terjadi di Cina saja tetapi juga di berbagai negara lainnya. Masih membicarakan kelompok sosialita di Cina, ada seorang mahasiswi yang melakukan sosial eksperimen mengenai hal tersebut.
Lucunya perbedaan yang dimiliki mahasiswa ini dan kelompok sosialita Shanghai yang telah dibahas sebelumnya terletak pada biaya. Mahasiswi ini mencoba untuk terlihat seperti sosialita dengan menggunakan fasilitas mewah yang ada secara gratis. Ternyata ia menghabiskan sebagian harinya di lobby hotel dan memakan makanan gratis yang disediakan di sana serta berfoto ria untuk diposting pada akunnya.
Hal ini pun dapat berjalan selama beberapa hari tanpa adanya hambatan. Sejauh ini, perbedaan antara front stage dan back stage pada kehidupan media sosial terlihat mencolok sekali bukan?
Dari beberapa contoh yang telah dibahas, dapat dikatakan bahwa seseorang akan berusaha keras dalam impression management untuk mencapai citra diri yang diinginkan dan orang cenderung akan menaruh fokus dan effort pada front stage untuk memberikan pleasing secara totalitas kepada orang lain atau audience sehingga menciptakan simpang siur pada kehidupannya.
Hal ini tentunya tidak hanya berlaku pada media sosial saja tetapi kehidupan manusia secara keseluruhan. [*]
Sumber : https://www.ayobandung.com/netizen/pr-792611088/dramaturgi-goffman-dan-topeng-kehidupan-media-sosial?page=4
.png)